Tadi siang jam 3 sore, Bukit Anugerah dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh penjuru di Tapanuli Tengah.
Pasalnya seorang hamba Tuhan yang disalibkan di sana. Tuduhan palsu telah berhasil digalang oleh kepala dinas
kehutanan Kabupaten Tapanuli Tengah dalam kasus pembabatan hutan register 47.
Selain tuduhan di atas, korban juga telah dituduh berniat menggulingkan pemerintah
yang sah serta ingin menjadi raja Tapteng di tahun 2011. Raja yang memerintah
seluruh "eks keresidenan Tapanuli" gusar dengan berita itu. Oleh karena itu mereka bersekongkol
untuk menyalibkannya.
Rakyat yang sudah terprovokasi, meminta agar hamba Tuhan di
salibkan. “Salibkan dia”, “Salibkan Dia” kata orang banyak.
Diapun diarak ke Bukit Anugerah. Sesampai di bukit anugerah
para algojo menyalibkan orang itu. Tak seperti biasanya orang itu, bisa membela
diri,...kali ini dia diam saja atas penyaliban itu.
Di bukit Anugerah terdapat dua orang penjahat yang terlebih
dulu disalibkan. “Katanya kamu hebat, punya massa FPTR. Kalau kau benar punya
massa, suruhlah massamu itu datang menyelamatkanmu” kata penjahat yang
disebelah kiri.
Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kanan. “Hai bro! Kau
jangan begitu bro. Dia tak bersalah, dia disalibkan karena dia menyelamatkan petani karet di Purbatua dan masyarakat korban penyerobotan tanah” penjahat disebelah
kanan menegurnya. "Dia tak pantas dihukum, kitalah yang pantas dihukum" ia menambahkan.
"Saya tak pantas dihukum. Buktikan kesalahan saya bro" kata penjahat disebelah kiri membela diri.
"Lihat kawasan bukit anugerah ini, sudah habis kau babat hutannya bro! Ini hutan lindung bro. Dan lihat dimana patung yang dulu kau janjikan berdiri di sini, anggaran sudah cair tapi kuku patung anugerah pun sampai saat ini belum kelihatan" penjahat sebelah kanan menjawab.
Hamba Tuhan yang dari tadi diam saja menahan sakit, terusik dengan percakapan kedua orang itu.
“Pasti saya kenal mereka
berdua ini” pikirnya dalam hati.
Penasaran dengan kedua orang itu, dia pun memalingkan
pandangannya ke sebelah kanan.
“Pastor Rantinus!” yang sebelah kanan bicara. Alangkah
kagetnya ia, ternyata penjahat yang disebelah kanannya adalah Edianto
Simatupang. "Kau rupanya, Edi!" Pastor Rantinus memandang seolah tak percaya.
Lalu Edi bermain mata, seolah mau mengajak agar Rantinus memandang ke sebelah kiri juga.
Lalu, pelan-pelan HambaTuhan memalingkan pandangannya ke sebelah kiri. Bulu kuduknya langsung berdiri. Ia
langsung naik tensi. Darahnya berdesir dan jantungnya berdegup dengan kencang. “Kau rupanya!” katanya sambil menahan emosi. Ternyata orang yang disalibkan di sebelah kirinya adalah Tuani
Lbn Tobing (Bupati Tapanuli Tengah). Ha...haha...ada-ada saja.[sumber cerita:oposisisibolgataptng@yahoo.co.id]