PLTU Labuan Angin boleh menjadi mega proyek dan kebanggaan negeri karena bisa mengurangi defisit listrik di Indonesia. PLTU itu pastilah dibangun dari niat yang baik untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tapi ternyata sampai kini PLTU Labuan Angin masih menyisakan persoalan di masyarakat. Tanah masyarakat yang menjadi jalan ke PLTU ternyata belum mendapat ganti rugi.
Merasa tak tahu harus kemana menyampaikan keluhan mereka (sekedar info,masy sudah mengadu ke pemkab dan camat beberapa kali) masyarakat akhirnya menutup paksa jalan masuk ke PLTU, jumat-sabtu (2-3/7/2010).
Setelah 2 hari ditutup akhirnya, masyarakat membuka jalan kembali karena POLRES Tapteng bersedia mempertemukan warga dengan pihak-pihak yang terkait dengan ganti rugi itu sendiri.
Benarkah PLTU sudah membayar ganti rugi tanah masyarakat? Kalau benar kemana dana itu nyasar, dan mengapa tidak sampai ke masyarakat. Pertanyaan inilah yang harus dibongkar oleh POLRES Tapteng dalam pertemuan pihak-pihak terkait, Selasa (6/7/2010).
Selasa, 06 Juli 2010
Sabtu, 05 Juni 2010
9,8 M Alokasi APBD Untuk Proyek Sia-sia
Sunggu sedih hati ini bercampur geram, betapa tidak 9,8 M kembali dianggarkan u/ pembangunan sarana dan prasarana di Lokasi Patung Anugerah, yang pembangunan sudah dianggarkan sejak tahun 2004 hingga sekarang patung nya tidak pernah nongol. Bukan hanya itu, pembangunan patung anugerah awalnya diletakkan di Bonan Dolok Kecamatan Sitahuis Kab. Tapteng, selain sudah menghabiskan anggaran 10 han M juga telah menggunduli Hutan Register, sadis bukan..?
Tidak puas sampai disitu, setelah gagal di lokasi pertama kembali mendapatkan lokasi baru, tepatnya di Kecamatan Tapian Nauli daerah labuhan angin. Masih ingat dengan masalah warga di kecamatan tersebut..? puluhan warga belum mendapat ganti rugi pembukaan jalan, bahkan banyak lahan masyarakat malah di klem milik pemkab.
Wah.. benar-benar jahat, sadis, tidak punya hati nurani dan penindas rakyat. Masih terngiang ucapan Uskup Ludovikus Simanullang Keuskupan Sibolga, "Tapanuli Tengah Termiskin di Sumut setelah Nias", ironis bukan, saat rakyat butuh makan, butuh irigasi, butuh menyekolahkan anak, seorang Bupati malah tidak berpihak dengan rakyatnya.
Saya tertarik dengan komentar Abang Jambang di koran SIB, "mudah-mudahan patung itu nanti bisa memberi makan rakyat miskin di Tapteng".
Ini berita yang sangat menyayat hati menambah luka penderitaan rakyat, Bupati Tapteng Tuani Lumban Tobing (kader Demokrat) benar-benar tidak peduli dengan persoalan rakyat, malah pamer kekuasaan dan korupsi, anehnya malah dilindungi SBY presiden kita, edan bukan. Begitu banyak persoalan di Tapteng, begitu dalam penderitaan rakyat, 2 periode kepemimpinannya tidak ada perkembangan apa2, pembangunan ala konsep Tapanuli Growth hanya isapan jempol semata, malah rakyat yang menjadi korban dan selamanya akan tertindas jika rezim ini kembali berkuasa.
Ahir cerita..! Tegagkan Demokrasi : Tangkap Drs Tuani Lumban Tobing, otak kemiskinan dan kejahatan di Tapteng.
Salam Revolusi
Edianto Simatupang
Tidak puas sampai disitu, setelah gagal di lokasi pertama kembali mendapatkan lokasi baru, tepatnya di Kecamatan Tapian Nauli daerah labuhan angin. Masih ingat dengan masalah warga di kecamatan tersebut..? puluhan warga belum mendapat ganti rugi pembukaan jalan, bahkan banyak lahan masyarakat malah di klem milik pemkab.
Wah.. benar-benar jahat, sadis, tidak punya hati nurani dan penindas rakyat. Masih terngiang ucapan Uskup Ludovikus Simanullang Keuskupan Sibolga, "Tapanuli Tengah Termiskin di Sumut setelah Nias", ironis bukan, saat rakyat butuh makan, butuh irigasi, butuh menyekolahkan anak, seorang Bupati malah tidak berpihak dengan rakyatnya.
Saya tertarik dengan komentar Abang Jambang di koran SIB, "mudah-mudahan patung itu nanti bisa memberi makan rakyat miskin di Tapteng".
Ini berita yang sangat menyayat hati menambah luka penderitaan rakyat, Bupati Tapteng Tuani Lumban Tobing (kader Demokrat) benar-benar tidak peduli dengan persoalan rakyat, malah pamer kekuasaan dan korupsi, anehnya malah dilindungi SBY presiden kita, edan bukan. Begitu banyak persoalan di Tapteng, begitu dalam penderitaan rakyat, 2 periode kepemimpinannya tidak ada perkembangan apa2, pembangunan ala konsep Tapanuli Growth hanya isapan jempol semata, malah rakyat yang menjadi korban dan selamanya akan tertindas jika rezim ini kembali berkuasa.
Ahir cerita..! Tegagkan Demokrasi : Tangkap Drs Tuani Lumban Tobing, otak kemiskinan dan kejahatan di Tapteng.
Salam Revolusi
Edianto Simatupang
Akankah Dinasti Tuan i Kita Biarkan?
PEDULI TAPTENG: Sudah terbukti gagal membangun Tapteng selama 10 tahun. Si tuan i masih jg bisa berkata, tak ada orang lain di Tapteng yg bisa melanjutkan pembangunan selain istrinya sendiri...Ini penghinaan bagi kita orang yg berasal dan lahir di Tapteng. Masak tak seorangpun putera Tapteng yg bisa membangun Tapteng! Sok kali kau, tuan i!!!!!
Oknum Pejabat Tapteng itu murid dari rejim Orde Baru, bahkan lebih kreatif daripada Soeharta dalam melanjutkan dinasti kekuasaannya. Soeharto juga dulu berujar, gak ada orang yang bisa menggantikan dia. Maka jadilah 35 tahun rejim berlangsung dengan penuh keanehan.
Dalam hal konsep pembangunan manusia seutuhnya dan kebobrokan pembangunan ... ditapteng saya siap berdebat di depan publik dengan Tuani, apalagi dengan istrinya. Bahwa apa yang dikatakannya tentang keberhasilan di Tapteng itu bohong besar. Saya sudah katakan itu depan Kantor Bupati tgl 28 Mei 2008, ketika saya menurunkan massa 2000-an utk unjuk rasa. Dia gak berani keluar dari persembunyiannya.
Tuani sudah mendapat kesempatan dua periode (10 thn) memimpin Tapteng dan gagal. Bahkan beberapa proyek berskala raksasa diduga terindikasi korupsi. Proses pemiskinan rakyat secara meluas sedang terjadi dengan maraknya penyerobotan tanah di Tapteng yang terindikasi terkait dengan kepentingan Oknum Bupati. Ingat Komnas HAM menemukan 500-an Ha kebun sawit di Pulo Pane dan Pantai Binasi tanpa pemilik. Jajaran pejabat Pemkab Tapteng mengaku tidak tahu pemilik kebun sawit itu. Di desa Maduma dekat Pantai Binasi 47.6 Ha lahan masyarakat dampingan kami diserobot. Camat jelas tampak oleh masyarakat, terlibat dalam konflik antara SatPol-PP dengan Warga. A. Lubus, Komandan regu SatPol-PP dipidana 2.5 bulan karena dengan arogan mengacungkan senjata laras pendek kepada ibu-ibu di lahan bermasalah itu. Siapa menugaskan Satpol-PP ini kalau bukan Oknum Pejabat Kabupaten di Tapteng. Apakah tugas SatPol-PP memberikan pengamanan untuk perkebunan swasta, kalau itu tidak ada kaitan dengan pejabat di Tapteng? Kenapa bukan Polisi Republik Indonesia yang datang ke situ kalau itu menyangkut keamanan?
Masih banyak kasus lain yang bisa memperpanjang daftar ini. Sebagian kita sudah sampaikan kepada aparat penegakan hukum dan Komnas HAM. Tapi anehnya, Oknum Pejabat Tapteng belum tersentuh. Licin bagai belut. Kenapa ? Karena banyak dari kelangan aparat penegak hukum masih memanfaatkan kasus-kasus di Tapteng untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Dalam keadaan seperti digambarkan di atas, masihkah masyarakat mau dibodoh-bodohi dengan mengatakan, tidak ada yang bisa melanjutkan pembangunan di Tapteng kecuali istrinya? Apa prestasi yang sudah dicapai oleh istrinya itu sehingga dia bilang begitu? Jabatan Ketua Tim Penggerak PKK itu mau dijadikan alasan? Apa yang istimewa di situ? Karena suaminya Bupati, ia otomatis dijadikan Ketua Tim, jika tidak?
Aneh bin ajaib. Gerejapun tidak lagi punya kewibawaan di hadapan Bupati Tuani Lbn Tobing. Ketika Natal dan Paskah Oikumene, Dina Br. Samosir, diberikan kesempatan berbicara menyampaikan pesan Natal. Tahun-tahun sebelumnya tidak ada itu. Saya dulu Sekretaris BKAG Tapteng-Sibolga. Kami dulu independen. Gak bisa dimanfaatkan oleh oknum pejabat utk kepentingannya. Tapi sekarang, semua telah dikendalikan dan dipakai menjadi kendaraan politik oleh penguasa.
Kegagalan pembangunan selama 10 tahun di Tapteng seharusnya bisa dijadikan kasus untuk membuktikan kebenaran dan menegakkan keadilan. Proyek yang terindikasi korupsi itu seharusnya diproses secara hukum agar terkuak kebenaran itu. Tapi aneh, semua diam. Malah dimana-mana ia membuat atau mengahdiri acara, ia dengan bebas, mengatakan istrinyalah satu-satunya yang bisa memimpin Tapteng untuk ke depan. Astaga....
Begitulah. Pesan saya kepada pembaca yang budiman, yang punya telinga hendaklah mendengar, yang punya mata, hendaklah melihat. Jangan hadiri acara yang dibuat atau dihadiri oleh Oknum Bupati Tapteng yang terkait dengan pengkampanyean istrinya menjadi Bupati Tapteng..... "Jangan merebut tulang tanpa isi, sama dengan merebut kebodohan" (Ebiet G. Ade), [tulisan ini diambil secara penuh dari komentar Rantinus Manalu, pejuang HAM Tapteng di FB Peduli Tapteng.]
Senin, 17 Mei 2010
Kemana Dana Sebesar 2,6 Milyar?
Gerakan pengumpulan dana pembebasan lahan SMA Barus yang digalang sekelompok orang di koran lokal POS METRO disesalkan banyak pihak dan dinilai sebagai pembohongan publik.
"Jelas pembohongan publik..! Gerakan ini harus diwaspadai, ada pihak yg mau cari untung n menjilat. Harusnya gerakan ini lebih tau dulu persolannya lebih detail dan jelas" tulis seorang pejuang keadilan di Tapteng, Edianto Simatupang.
"Puluhan tahun sudah persoalan ini, bukan tidak ada waktu atau dana untuk lokasi pembangunan sekolah, pihak penggugat sudah baik bahkan bermurah hati, mereka sudah lama menang di pengadilan namun tidak langsung mengeksekusi, bahkan memberi penawaran penjualan lahan sebesar 800 juta, harga yang murah, namun pihak pemkab tidak memberi ganti rugi dengan berbagai alasan dan cara busuk" lanjtunya lagi.
Terkait pembebasan lahan SMA Barus yang sudah lama diperjuangkan ahli waris pemilik tanah sah SMA Barus, oknum Bupati tapteng diduga membohongi masyarakat.
Lahan SMA Negeri Barus menjadi lahan yang disengketakan antara ahli waris tanah dengan Pemkab Tapteng. Data valid yang dihimpun PEDULI TAPTENG ONLINE, anggaran ganti rugi untuk pembelian lahan SMA Barus sudah cair dan ditampung di APBD tahun 2008 dengan jumlah 2.6 milliar.
Kamis, 29 April 2010
Hotlan Jadi KABAG! Apa Kata Dunia?
Hotlan Simanullang, Camat Sosorgadong diangkat Bupati Tapanuli Tengah Tuani Lbn Tobing menjadi Kepala Bagian Tata Pemerintahan. Sekilas jika dilihat dari jenjang kekariran pangkat dan golongan, hal itu layak didapatkannya.
Lalu, apa yang salah dalam pengangkatan itu? dan apa yang salah dalam diri Hotlan? sebagaimana yang kami beritakan pada artikel lain di blog ini (baca: Bupati dan DPRD Urus 'Tali Air Hotlan'), Hotlan secara moral tak pantas menduduki jabatan Kepala Bagian Tata Pemerintahan.
Hubungan gelapnya dengan F br S, seorang pegawai honorer di Kecamatan Sosorgadong, membuatnya cacat secara moral. Betapa tidak, Hotlan yang sudah beristri diduga memiliki hubungan gelap dengan F br S. Karena persoalan cemburu Hotlan, menganiaya F br S.
Setalah penganiayaan itu, F br S membuka affair hubungan gelapnya dengan Hotlan kepada PEDULI TAPTENG ONLINE dalam bentuk tertulis sebanyak 4 halaman. Dalam surat pengakuan itu F br S mengaku dianiaya oleh Hotlan karena rasa cemburu.
Kecuali, itu F br S mengaku bahwa hubungannya dengan Hotlan didasari pada ketakutan antara bawahan dan atasan. F br S mengaku melayani semua peermintaan Hotlan karena dia takut bermasalah dengan pekerjaannya.
Hubungan terlarang itu akhirnya berbuah janin. Hotlan pun panik. dia meminta F br S menggugurkan janin mereka. F br S sebetulnya tidak mau menggugurkan kandungannya, tapi Hotlan memaksanya. F br S pun menggurkan kandungannya di Sibuluan lewat bantuan seorang bidan PTT.
Nah, kasus inilah sebenarnya yang membuat Hotlan tak pantas menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian Tata Pemerintahan. Kasus itu sendiri telah dilaporkan ke Polsek Barus. Boro-boro diperiksa atau ditangkap, kini Hotlan malah melenggang ke kursi empuk sebagai Kabag.
Hotlan! enak nian hidupmu. Sudah rusak boru orang, dapat jabatan empuk pula lagi kau! Alai, aeonmu do haduan i amang!
Lalu, apa yang salah dalam pengangkatan itu? dan apa yang salah dalam diri Hotlan? sebagaimana yang kami beritakan pada artikel lain di blog ini (baca: Bupati dan DPRD Urus 'Tali Air Hotlan'), Hotlan secara moral tak pantas menduduki jabatan Kepala Bagian Tata Pemerintahan.
Hubungan gelapnya dengan F br S, seorang pegawai honorer di Kecamatan Sosorgadong, membuatnya cacat secara moral. Betapa tidak, Hotlan yang sudah beristri diduga memiliki hubungan gelap dengan F br S. Karena persoalan cemburu Hotlan, menganiaya F br S.
Setalah penganiayaan itu, F br S membuka affair hubungan gelapnya dengan Hotlan kepada PEDULI TAPTENG ONLINE dalam bentuk tertulis sebanyak 4 halaman. Dalam surat pengakuan itu F br S mengaku dianiaya oleh Hotlan karena rasa cemburu.
Kecuali, itu F br S mengaku bahwa hubungannya dengan Hotlan didasari pada ketakutan antara bawahan dan atasan. F br S mengaku melayani semua peermintaan Hotlan karena dia takut bermasalah dengan pekerjaannya.
Hubungan terlarang itu akhirnya berbuah janin. Hotlan pun panik. dia meminta F br S menggugurkan janin mereka. F br S sebetulnya tidak mau menggugurkan kandungannya, tapi Hotlan memaksanya. F br S pun menggurkan kandungannya di Sibuluan lewat bantuan seorang bidan PTT.
Nah, kasus inilah sebenarnya yang membuat Hotlan tak pantas menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian Tata Pemerintahan. Kasus itu sendiri telah dilaporkan ke Polsek Barus. Boro-boro diperiksa atau ditangkap, kini Hotlan malah melenggang ke kursi empuk sebagai Kabag.
Hotlan! enak nian hidupmu. Sudah rusak boru orang, dapat jabatan empuk pula lagi kau! Alai, aeonmu do haduan i amang!
Senin, 26 April 2010
JNPT Rampungkan Investigasi di Tapteng
Setelah seminggu mengadakan investigasi di Bona Pasogit, Jaringan Nasional Peduli Tapteng (JNPT) merampungkan hasil investigasi dan pengumpulan data, Sabtu, 24 April 2010. Data-data yang berhasil dikumpulkan JNPT adalah data pelanggaran HAM di Tapteng, Penyerobotan tanah, dan korupsi bupati Tapteng.
Selama seminggu di Tapteng, tim JNPT telah menemui tokoh-tokoh penegak keadilan dan HAM di Tapteng seperti: Pastor Rantinus Manalu, Pr dan Ustadz Sodikin Lubis serta Pastor Paulus Posma Manalu, Pr. Selain itu mereka juga telah menemui koordinator FPTR Edianto Simatupang dan beberapa anggota DPRD yang tak bersedia disebut namanya.
Setelah menemui tokoh-tokoh Tapteng, tim JNPT selanjutnya mengunjungi beberapa tempat yang diduga menjadi lahan korupsi dan tempat kejadian persengketaan tanah. Tim antara lain telah mengunjungi lokasi Patung Anugerah dan proyek jalan Poriaha-Rampah, TPI di Labuan Angin dan korban penyerobotan tanah di Sirandorung dan Sosorgadong.
Tim investigasi JNPT berkali-kali menunjukkan rasa marah dan jengkel mereka melihat Bona Pasogit yang nampaknya mengarah pada perbudakan. Di Sirandorung, warga transmigran yang tanahnya dirampas mengaku hanya bisa menerima nasib mereka dengan pasrah.
"Setelah tanah kami dirampas, kami terpaksa bekerja di PT Nauli Sawit dengan gaji Rp 39.000 per hari" ungkap Bapak Marjono. Bapak Marjono adalah salah seorang warga trans yang masih memiliki sertifikat tanahnya tapi lahan sudah dikuasai PT Nauli Sawit.
Mateus Hutauruk, Koordinator JNPT bertekad akan memperjuangkan pengembalian tanah warga transmigran di Sosorgadong. "Persoalan terlalu banyak di Tapteng" maka kami akan memilah kasus per kasus dan memperjuangkannya di Jakarta ungkap Putera Asli Tapteng ini.
Kasus-kasus yang sudah lengkap bukti-buktinya selanjutnya akan diadukan ke pihak-pihak yang terkait dengan bantuan seorang putera Tapteng yang sangat sukses di Jakarta. "Apa boleh buat perjuangan ini akan kita mulai dari Jakarta" tambah Mateus.
Mateus sendiri sangat yakin dengan data-data yang dikumpulkannya, maka warga Tapteng korban penyerobotan tanah akan segera mendapatkan haknya kembali. "Kami akan berjuang sepenuh hati, bagi pengembalian hak-hak masyarakat Tapteng yang selama ini di hilangkan oleh orang-orang yang mengaku pejabat negara" ungkapnya. Selamat atas perjuangan!
Selama seminggu di Tapteng, tim JNPT telah menemui tokoh-tokoh penegak keadilan dan HAM di Tapteng seperti: Pastor Rantinus Manalu, Pr dan Ustadz Sodikin Lubis serta Pastor Paulus Posma Manalu, Pr. Selain itu mereka juga telah menemui koordinator FPTR Edianto Simatupang dan beberapa anggota DPRD yang tak bersedia disebut namanya.
Setelah menemui tokoh-tokoh Tapteng, tim JNPT selanjutnya mengunjungi beberapa tempat yang diduga menjadi lahan korupsi dan tempat kejadian persengketaan tanah. Tim antara lain telah mengunjungi lokasi Patung Anugerah dan proyek jalan Poriaha-Rampah, TPI di Labuan Angin dan korban penyerobotan tanah di Sirandorung dan Sosorgadong.
Tim investigasi JNPT berkali-kali menunjukkan rasa marah dan jengkel mereka melihat Bona Pasogit yang nampaknya mengarah pada perbudakan. Di Sirandorung, warga transmigran yang tanahnya dirampas mengaku hanya bisa menerima nasib mereka dengan pasrah.
"Setelah tanah kami dirampas, kami terpaksa bekerja di PT Nauli Sawit dengan gaji Rp 39.000 per hari" ungkap Bapak Marjono. Bapak Marjono adalah salah seorang warga trans yang masih memiliki sertifikat tanahnya tapi lahan sudah dikuasai PT Nauli Sawit.
Mateus Hutauruk, Koordinator JNPT bertekad akan memperjuangkan pengembalian tanah warga transmigran di Sosorgadong. "Persoalan terlalu banyak di Tapteng" maka kami akan memilah kasus per kasus dan memperjuangkannya di Jakarta ungkap Putera Asli Tapteng ini.
Kasus-kasus yang sudah lengkap bukti-buktinya selanjutnya akan diadukan ke pihak-pihak yang terkait dengan bantuan seorang putera Tapteng yang sangat sukses di Jakarta. "Apa boleh buat perjuangan ini akan kita mulai dari Jakarta" tambah Mateus.
Mateus sendiri sangat yakin dengan data-data yang dikumpulkannya, maka warga Tapteng korban penyerobotan tanah akan segera mendapatkan haknya kembali. "Kami akan berjuang sepenuh hati, bagi pengembalian hak-hak masyarakat Tapteng yang selama ini di hilangkan oleh orang-orang yang mengaku pejabat negara" ungkapnya. Selamat atas perjuangan!
Sabtu, 17 April 2010
Patung Anugerah Proyek Ilusi
Arah EVAKUASI itulah tanda yang dibuat menuju lokasi pembangunan patung Anugerah di Kecamatan Tapian Nauli tidak jauh dari PLTU Labuhan Angin. Setelah gagal menempatkan patung tersebut di Bonan Dolok Kecamatan Sitahuis karena berada di lokasi hutan Register, bupati Tapteng tidak habis akal. Walau sudah menghabiskan anggaran milliaran rupiah dari APBD, bupati tidak peduli, pokoknya asal bisa menjadi sumber korupsi dia tetap akan laksanakan.
Nah...patung tersebut akan dipindahkan ke kecamatan tapian nauli, bupati ngotot patung ini harus berdiri, mau dimanapun, yang penting bisa dianggarkan. Didukung DPRD Tapteng kembali pembangunan patung tersebut serta pembukaan jalan di tampung dalam APBD hingga milliaran rupiah. Padahal pembangunan patung anugerah diatas perahu tersebut sangat mustahil dan hanya sebagai mimpi.
Terungkap dalam investigasi aktivis-aktivis dari Jakarta yang tergabung dalam Solidaritas Nasional Peduli Tapteng (16/4/10), lokasi lahan pembangunan patung anugerah tersebut tertulis "Tempat Penampungan Gempa dan Stunami". Tulisan sangat aneh dan bukan pada tempatnya, berjarak 2 km dari jalan baru rombongan menemukan petunjuk arah panah yang bertuliskan Arah Evakuasi hanyalah untuk mengelabui masyarakat atau pengunjung. Namun kenyataannya itu adalah bukit lokasi pembangunan Patung Anugerah yang tidak pernah menjadi kenyataan. Pembangunan patung ini masuk dalam konsep Tapanuli Growth sejak tahun 2004 hingga sekarang tidak pernah nyata, konsep gagal, konsep pembangunan yang tidak pro rakyat telah menghabiskan uang rakyat milliaran rupiah yang seharusnya bisa dimamfaatkan untuk membangun irigasi serta kebutuhan nelayan.
Ahhh Tuani...bisa aja bohongin rakyat..? [laporan:edianto simatupang}
Nah...patung tersebut akan dipindahkan ke kecamatan tapian nauli, bupati ngotot patung ini harus berdiri, mau dimanapun, yang penting bisa dianggarkan. Didukung DPRD Tapteng kembali pembangunan patung tersebut serta pembukaan jalan di tampung dalam APBD hingga milliaran rupiah. Padahal pembangunan patung anugerah diatas perahu tersebut sangat mustahil dan hanya sebagai mimpi.
Terungkap dalam investigasi aktivis-aktivis dari Jakarta yang tergabung dalam Solidaritas Nasional Peduli Tapteng (16/4/10), lokasi lahan pembangunan patung anugerah tersebut tertulis "Tempat Penampungan Gempa dan Stunami". Tulisan sangat aneh dan bukan pada tempatnya, berjarak 2 km dari jalan baru rombongan menemukan petunjuk arah panah yang bertuliskan Arah Evakuasi hanyalah untuk mengelabui masyarakat atau pengunjung. Namun kenyataannya itu adalah bukit lokasi pembangunan Patung Anugerah yang tidak pernah menjadi kenyataan. Pembangunan patung ini masuk dalam konsep Tapanuli Growth sejak tahun 2004 hingga sekarang tidak pernah nyata, konsep gagal, konsep pembangunan yang tidak pro rakyat telah menghabiskan uang rakyat milliaran rupiah yang seharusnya bisa dimamfaatkan untuk membangun irigasi serta kebutuhan nelayan.
Ahhh Tuani...bisa aja bohongin rakyat..? [laporan:edianto simatupang}
Jumat, 09 April 2010
PROTANA = Demi Tanah
Kemarin, (Rabu, 7/4/2010) DPRD Tapteng memutuskan membentuk panitia khusus PROTANA. Baktiar Sibarani, politisi 'bau kencur' terpilih menjadi ketuanya. Pada rapat pembentukan panitia khusus ini serentak juga dicabut dan dibubarkan panitia Propinsi Tapanuli Barat.
Panitia PROTABAR sendiri hanya bekerja panas-panas 'tai ayam'. Awalnya oknum-oknum tertentu mewacanakan PROTABAR setelah itu, dibentuk panitia dan pantia ini mensosialisasikannya lewat baliho-baliho besar yang tak ada gunanya. Kemarin panitia itu dibubarkan tanpa hasil sedikitpun.
Pembentukan wacana Protana diduga akan mengalami hal yang sama. Wacana itu sendiri dimunculkan oleh blok kejahatan tuani yang melingkupi para pejabat di eksekutif maupun legislatif.
Mereka yang getol untuk mewacanakan PROTANA ini hanyalah segelintir oknum-oknum pejabat dan anggota legislatif di Tapteng yang haus kekuasaan dan tanah rakyat.
PROTANA sendiri berasal dari sandi Demi Tanah. Jadi wacana pebentukan Propinsi Tapian Nauli didasarkan pada keingingan blok kejahatan di Tapteng untuk menyerobot tanah masyarakat lebih banyak lagi.
Menurut orang dekat Baktiar Sibarani, yang tak mau disebut namanya pengguliran wacana PROTANA berasal dari Tuani sendiri. Konon, menjelang masa jabatannya habis di Tapteng, Tuani gelisah tak bisa mempertahankan tanah yang dia serobot dari rakyatnya sendiri.
"Pak Tuani takut, kalau dia tidak lagi bupati maka masyarakat akan menduduki paksa tanah mereka yang dulu diambil pak Tuani" ungkap SH salah seorang anggota dewan di Tapteng. "Maka kalau PROTANA jadi, pak Tuani akan jadi Gubernur! dengan demikian ia bisa mengamankan kebun kelapa sawit di Sorkam dan Sosorgadong" ungkap beliau sambil minta namanya dirahasiakan.
Baktiar Sibarani, politisi bau kencur yang diduga terpilih menjadi anggota dewan karena penggelembungan suara rupanya mau mengucapkan terimakasihnya ke Tuani dengan cara memimpin Panitia Khusus PROTANA. Anggota Dewan Tapteng memang bekerja untuk memuaskan nafsu kekuasaan Tuani! PROTANA = demi mengamankan Tanah yang diserobot.
Panitia PROTABAR sendiri hanya bekerja panas-panas 'tai ayam'. Awalnya oknum-oknum tertentu mewacanakan PROTABAR setelah itu, dibentuk panitia dan pantia ini mensosialisasikannya lewat baliho-baliho besar yang tak ada gunanya. Kemarin panitia itu dibubarkan tanpa hasil sedikitpun.
Pembentukan wacana Protana diduga akan mengalami hal yang sama. Wacana itu sendiri dimunculkan oleh blok kejahatan tuani yang melingkupi para pejabat di eksekutif maupun legislatif.
Mereka yang getol untuk mewacanakan PROTANA ini hanyalah segelintir oknum-oknum pejabat dan anggota legislatif di Tapteng yang haus kekuasaan dan tanah rakyat.
PROTANA sendiri berasal dari sandi Demi Tanah. Jadi wacana pebentukan Propinsi Tapian Nauli didasarkan pada keingingan blok kejahatan di Tapteng untuk menyerobot tanah masyarakat lebih banyak lagi.
Menurut orang dekat Baktiar Sibarani, yang tak mau disebut namanya pengguliran wacana PROTANA berasal dari Tuani sendiri. Konon, menjelang masa jabatannya habis di Tapteng, Tuani gelisah tak bisa mempertahankan tanah yang dia serobot dari rakyatnya sendiri.
"Pak Tuani takut, kalau dia tidak lagi bupati maka masyarakat akan menduduki paksa tanah mereka yang dulu diambil pak Tuani" ungkap SH salah seorang anggota dewan di Tapteng. "Maka kalau PROTANA jadi, pak Tuani akan jadi Gubernur! dengan demikian ia bisa mengamankan kebun kelapa sawit di Sorkam dan Sosorgadong" ungkap beliau sambil minta namanya dirahasiakan.
Baktiar Sibarani, politisi bau kencur yang diduga terpilih menjadi anggota dewan karena penggelembungan suara rupanya mau mengucapkan terimakasihnya ke Tuani dengan cara memimpin Panitia Khusus PROTANA. Anggota Dewan Tapteng memang bekerja untuk memuaskan nafsu kekuasaan Tuani! PROTANA = demi mengamankan Tanah yang diserobot.
Rabu, 07 April 2010
DPRD dan Bupati Tapteng Urus 'Tali Air' Hotlan
Ini baru namanya kasus affair tingkat tinggi. Sampai-sampai DPRD dan Bupati Tapteng mengurus persoalan 'tali air' seorang camat.
Camat Sosorgadong, Hotlan Simanullang mewakili sebagian besar watak para pejabat di Tapanuli Tengah.Camat yang seharusnya memberi teladan kepada masyarakatnya terutama kepada bawahannya justru mempertontonkan perilaku yang menggelikan sekaligus arogan.
Hotlan Simanullang melakukan penganiayaan pada F br S bawahannya sendiri. Hotlan karena dibakar api cemburu yang tidak sepantasnya tega nian menampar F br S sampai wajah perempuan itu lebam.
Kejadiannya, berawal dari hubungan selingkuh tak wajar antara sang Camat dengan stafnya itu. Meski Hotlan sudah menikah, tapi rupanya istri tak bisa memuaskan 'urusan tali airnya' hingga dia harus mencari mangsa lain untuk memuaskan nafsu bejatnya.
Awalnya, F Br S meminjam uang dari Hotlan Rp 2 juta, untuk bepergian ke Tarutung, dengan catatan dicicil setiap bulannya. Tetapi sesampai di Tarutung, Hotlan mengetahui bahwa F Br S menemui pacarnya. Selanjutnya, oknum Camat memaksa F Br S untuk pulang dengan cepat.
Tepatnya, Rabu (17/3) pagi, di ruangan Camat tersebut, tejadi debat seru, oknum camat meminta uang yang dipinjam itu dikembalikan. Tetapi F Br S tak sanggup mengembalikan uang itu. Sang camat langsung menganiaya F Br S dengan menampar hingga sampai 3 kali membuat wajah dan pipi lembam.
Masyarakat yang marah atas penganiayaan itu melakukan aksi demonstrasi. Mereka menuntut Hotlan dipecat karena tak layak menjadi camat. Saat demonstrasi itu Hotlan juga masih menunjukkan arogansinya dengan memanggil preman untuk menghadang para demonstrans. Kabarnya kasus ini sudah dilaporkan ke Polsek Barus, namun masyarakat sendiri tidak percaya bahwa kasus itu akan diungkap tuntas oleh polisi.
Kasus itu sendiri sudah sampai ke meja DPRD Tapteng. Kabarnya DPRD Tapteng telah memanggil oknum camat yang tak bermoral ini. Namun, menurut informasi yang berhasil dihimpun tim PEDULI TAPTENG, Hotlan malah memutarbalikkan fakta. Di hadapan anggota dewan yang tidak terhormat beliau mengaku, justru dialah yang ditampar oleh F br S. Tragis,...cekk...kkkk....
Hotlan Simanullang adalah bagian dari blok kejahatan di Tapteng. Dia dilindungi oleh bupati Tapteng, karena selama ini, Hotlanlah yang berada di bagian terdepan untuk merampok dan menyerobot tanah masyarakat di Sosorgadong. Dia juga dibekeingi oleh preman-preman utusan Tuani.
Untuk Melindungi camat bernafsu bejat ini, Tuani sampai turun tangan. Konon, ia berusaha memanggil F br S dan keluarganya ke kantor bupati. Diduga kuat, sang bupati akan membungkam dan menakuti F br S agar diam dan tidak memperpanjang urusan 'tali air' Hotlan.
Hotlan, Hebat nian kau ini bah! Sampai urusan 'tali airmu' pun bupati dan DPRD turun tangan dan mungkin akan melindungimu. Taptengku sayang, Taptengku malang...sampai kapan kau dipinpin oleh orang-orang tak bermoral seperti Hotlan?
Camat Sosorgadong, Hotlan Simanullang mewakili sebagian besar watak para pejabat di Tapanuli Tengah.Camat yang seharusnya memberi teladan kepada masyarakatnya terutama kepada bawahannya justru mempertontonkan perilaku yang menggelikan sekaligus arogan.
Hotlan Simanullang melakukan penganiayaan pada F br S bawahannya sendiri. Hotlan karena dibakar api cemburu yang tidak sepantasnya tega nian menampar F br S sampai wajah perempuan itu lebam.
Kejadiannya, berawal dari hubungan selingkuh tak wajar antara sang Camat dengan stafnya itu. Meski Hotlan sudah menikah, tapi rupanya istri tak bisa memuaskan 'urusan tali airnya' hingga dia harus mencari mangsa lain untuk memuaskan nafsu bejatnya.
Awalnya, F Br S meminjam uang dari Hotlan Rp 2 juta, untuk bepergian ke Tarutung, dengan catatan dicicil setiap bulannya. Tetapi sesampai di Tarutung, Hotlan mengetahui bahwa F Br S menemui pacarnya. Selanjutnya, oknum Camat memaksa F Br S untuk pulang dengan cepat.
Tepatnya, Rabu (17/3) pagi, di ruangan Camat tersebut, tejadi debat seru, oknum camat meminta uang yang dipinjam itu dikembalikan. Tetapi F Br S tak sanggup mengembalikan uang itu. Sang camat langsung menganiaya F Br S dengan menampar hingga sampai 3 kali membuat wajah dan pipi lembam.
Masyarakat yang marah atas penganiayaan itu melakukan aksi demonstrasi. Mereka menuntut Hotlan dipecat karena tak layak menjadi camat. Saat demonstrasi itu Hotlan juga masih menunjukkan arogansinya dengan memanggil preman untuk menghadang para demonstrans. Kabarnya kasus ini sudah dilaporkan ke Polsek Barus, namun masyarakat sendiri tidak percaya bahwa kasus itu akan diungkap tuntas oleh polisi.
Kasus itu sendiri sudah sampai ke meja DPRD Tapteng. Kabarnya DPRD Tapteng telah memanggil oknum camat yang tak bermoral ini. Namun, menurut informasi yang berhasil dihimpun tim PEDULI TAPTENG, Hotlan malah memutarbalikkan fakta. Di hadapan anggota dewan yang tidak terhormat beliau mengaku, justru dialah yang ditampar oleh F br S. Tragis,...cekk...kkkk....
Hotlan Simanullang adalah bagian dari blok kejahatan di Tapteng. Dia dilindungi oleh bupati Tapteng, karena selama ini, Hotlanlah yang berada di bagian terdepan untuk merampok dan menyerobot tanah masyarakat di Sosorgadong. Dia juga dibekeingi oleh preman-preman utusan Tuani.
Untuk Melindungi camat bernafsu bejat ini, Tuani sampai turun tangan. Konon, ia berusaha memanggil F br S dan keluarganya ke kantor bupati. Diduga kuat, sang bupati akan membungkam dan menakuti F br S agar diam dan tidak memperpanjang urusan 'tali air' Hotlan.
Hotlan, Hebat nian kau ini bah! Sampai urusan 'tali airmu' pun bupati dan DPRD turun tangan dan mungkin akan melindungimu. Taptengku sayang, Taptengku malang...sampai kapan kau dipinpin oleh orang-orang tak bermoral seperti Hotlan?
Langganan:
Postingan (Atom)